Di Antara Bimbang dan Ragu

Saturday, April 24, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Sungguh indah, pantai Nias ini. Dengan hamparan pasir putih nan indah, hijaunya nyiur di pantai, tiupan angin yang mendayu-dayu pakaian yang kukenakan, lanscape sunset yang mengingatkanku akan kenangan masa lalu aku bersama suamiku, semuanya lengkap tertata di depan mataku kali ini. Ya, aku seorang diri di sini, berharap berlari menjauh dari semua masalah yang kini sedang menghantui diriku. Padahal aku tahu, suamiku masih berharap aku kembali dalam dekapan hangatnya.

Meski aku berusaha melupakan sejenak permasalahan ini, tetap saja permasalahanku begitu angkuh hadir dalam bayang-bayang ingatan ini. Indahnya pantai Nias tak juga bisa merubah akan kegundahan hatiku. Air mata ini meleleh jatuh satu demi satu tak terelakkan lagi, saat ku teringat apa yang sedang terjadi antara aku dan Alexa, suamiku. Haruskah kuhapus kenangan manis itu ? Sebuah pertanyaan yang tak pernah bisa aku jawab sampai kini.

Jika dirunut ulang, kisah awal cinta kami berdua begitu indah dan kuat. Ia teramat setia bagiku. Penantiannya begitu kuat, saat dia menikahiku setelah aku menyelesaikan kuliah S1-ku di perguruan tinggi Negeri terkemuka di Jogja. Padahal, baginya begitu mudah mencari gadis lain pengganti diriku, mengingat Alexa memiliki postur tubuh ideal dan ketampanan yang tak diragukan lagi. Apalagi, dia sudah menjadi seorang yang mapan, dengan bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan jabatan yang karriernya sedang beranjak naik. Ah, Wanita mana yang tak melirik dirinya !

Antara Jakarta dan Jogja, meski jarak memisahkan aku dengannya, cinta kami berakhir pada sebuah pernikahan yang indah. Jalinan kasih yang begitu teramat kuat selalu menyertai kehidupan kami setelahnya. Tahun-tahun pertama dan kedua pernikahan kami nampak begitu bahagia. Aku dan Alexa begitu mabuk dalam keindahan kasih yang begitu dalam.

Namun di tahun ketiga mulailah aral yang tiada pernah aku kira sebelumnya. Kami belum dikaruniai seorang anak. Mungkin Tuhan belum mempercayakan kami, mungkin perjuangan kami belum cukup selama ini. Kegundahan ini membuatku gelisah, sekecil apapun bisa menjadi pertengkaran-pertengkaran yang sulit dihindari. Aku menjadi seorang yang sangat sensitif. Bagaimana mungkin buah cinta hadir jika kami saling bertengkar ?

Tapi, Alexa begitu tegar. Di setaip marahku, ia selalu menjadi pahlawan bagiku. Di pagi hari, kala aku membuka mata, semuanya telah terhidang manis di meja makan. Dari Nasi, lauk pauk dan minuman hangat semuanya sudah siap untuk disantap untuk kita berdua. Seisi rumah juga sudah rapi dan bersih. Alexa sudah mengepel lantai dengan keharuman karbol yang kami suka. Tapi, lagi-lagi aku begitu angkuh padanya, hingga wajahku masih berkerut tanpa senyuman sedikitpun. Aku masih marah ! Rupanya Alexa begitu sabar padaku. Ia sama sekali tak menyerang balik kekonyolanku. "Hayuk kita makan, sayang !" Akhirnya aku luluh juga akan panggilan sayangnya untukku.

Di suatu malam saat kami terbaring di kamar pembaringan kami, kuberanikan diri meminta Alexa, "Gimana kalau kita angkat seorang anak yang kita ambil dari panti asuhan ?" Alexa seperti kebingungan, tampak sekali jika raut wajahnya tak menyetujui aku. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Kami saling membisu diantara pecahnya malam yang senyap. Kembali aku dalam hati yang penuh dengan ketidak pastian.

Keesokan harinya aku semakin galau. Amarahku semakin membuncah, namun tak pernah mampu kulepaskan. Dada ini terasa sesak sekali. Lagi-lagi Alexa bersikap manis padaku. Akhirnya semua kuakhiri. Aku pergi meninggalkan Alexa seorang diri. Karena Alexa kuanggap tidak mau menuruti kemauanku. Mungkin aku terlalu egois, tak mau bersabar bersama Alexa. Alexa begitu sayang padaku, perhatiannya, kesetiaannya sangat jauh dibanding diriku. Teganya aku jika meninggalkannya seorang diri. Namun Egoku nyatanya lebih tinggi. Aku lebih condong mengikuti kemauan burukku. Mungkin dengan aku pergi, kita akan mampu sama-sama saling introspeksi diri.
Read More..

Rahma, Istriku

Friday, April 16, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Seketika istriku jatuh tergeletak di teras ruang tamu dalam sebuah pukulan dari tanganku. Namun setelahnya istriku sama sekali tak bergerak. Aku mencoba menyentuh wajahnya. Ia hanya diam membisu. Kucoba menepuk-nepuk pipinya, namun istriku sama sekali tak menjawab apapun. Tampak darah mengalir di dahinya. Serta merta kugendong tubuhnya yang ringan menuju ke mobil.

"Bi, tolong di rumah saja ya, saya mau bawa ibu ke rumah sakit", aku hanya bicara seperlunya saja. Wajah bibi, pembantu rumahku tampak gusar, seolah ia mengetahui apa yang telah terjadi saat itu. Wajar jika ia tak berani berbuat apa-apa saat kami sedang ribut.

Di rumah sakit, istriku langsung ditempatkan di UGD. Aku hanya bisa menunggu di luar ruangan. Saat-saat penantian ini membuatku tersiksa. Pikiranku melayang - layang ke sana kemari tak beraturan. Antara cemas dan takut menghantui adrenalinku. Cemas akan bagaimana nasib istriku kelak. Takut jika seandainya istriku tak tertolong, aku yang bersalah !

Kali ini aku menangis. Air mata ini nampaknya sangat sulit kubendung. Kenapa aku begitu tega terhadap istriku ? Aku tau, jika istriku sabar menghadapi aku yang sangat-sangat egois terhadapnya selama ini. Aku marah karena istriku memanggil aku dengan sebutan "KAMU". Padahal jauh di balik itu rupanya istriku telah memendam rasa kecewa terhadapku. Aku pernah menyamakan dirinya sebagai pelacur, karena di rumah ia mengenakan pakaian yang seksi. Sedang aku tak menyukainya karena kakak perempuanku sedang menginap di rumah kami. Aku sadar seharusnya aku tak menyebutnya atau menyamakan dirinya seperti itu. Tapi aku kelepasan bicara. Tapi mengapa ego ini menyelimuti aku, hingga tak ada kata maaf sedikitpun untuknya.

Aku juga sering melontarkan kata-kata yang seharusnya sangat tak layak untuknya. Aku sering menyebutnya sebagai Tolol dan bodoh. Padahal berkali-kali istriku mengingatkan aku, "Mencela seorang muslim merupakan kefasikan" dan ia juga bilang, " mengapa kata-kata itu berani ia ucapkan untuk orang yang akan menemani hidupnya ? mengapa dengan orang lain aku masih bisa menjaga ?" . Ah, Mengapa aku tak mau mendengar kata-katanya.

Tertata lagi kenagangan-kengan manis, saat aku dengannya masih menjadi sebuah pasangan yang indah. Betapa ia menjaga anak-anakku dengan rasa kasih sayangnya meski terkadang aku iri, sebab ia begitu sangat sayang terhadap anak-anakku.

Tersadar, aku tengah menunggu di ruang tunggu. Kuusap beberapa kali air mata yang tumpah begitu saja. Yaa . . . Tuhan, maafkan aku. Aku begitu menyia-yiakan dia. Aku benar-benar menyesal Tuhan. Beri aku kesempatan untuk membalas apa yang telah kulakukan untuk istriku selama ini. Aku janji tak akan menyia-nyiakan dirinya lagi.

Sesaat dokter keluar dari pintu UGD. "Bapak Raka ?" Aku berdiri. Namun dokter tersebut nampak gelisah, meski berusaha untuk tenang. "Maaf, istri anda tak tertolong lagi." Seketika itu aku berlari ke jasad istriku yang kini sudah tak bernyawa lagi. "Rahma istriku, maafkan aku !" aku berteriak keras, seolah aku menyesal untuk seumur hidup.


Read More..

Penulis : arofah2008@gmail.com